Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

RENUNGAN : ADAT BASENDI SYRAK (ABS), SYARAK BASENDI KITABULLAH (SBK), SYARAK MENGATO ADAT MEMAKAI (SM-AM). 

01 November, 2026 | November 01, 2026 WIB Last Updated 2026-11-01T04:07:14Z



JAMBI,-,RENUNGAN : ADAT BASENDI SYRAK (ABS), SYARAK BASENDI KITABULLAH (SBK), SYARAK MENGATO ADAT MEMAKAI (SM-AM)

 1.PENGERTIAN.

1) Adat, adalah perbuatan yang dilakukan secara berulang-ulang  (kebiasaan) dari ninek turun kebapak, dari bapak turun keaku, dari aku turun keanak, dari anak turun kecucu, dst.

2) Basendi, adalah diberi landasan, diberi alas tempat tegak agar kuat dan tidak mudah lapuk dimakan waktu.

3) Syarak, adalah syariat atau hukum islam yang datang dari Allah atau dari Rasulullah yaitu dari Nabi Muhammad swa.

4) Kitabullah adalah kitab suci al-Qur’an sebagai sumber hukum islam yang dilaksanakan oleh orang mukmin & mukminat.

5) Syarak Mengato, adalah ketetapan syari’at islam atau hukum islam yang telah ada dalam al-Qur’an & Hadist Nabi.

6) Adat Memakai, adalah adat yg melaksanakan seluruh hukum Islam tanpa kecuali, walau hukuman yg dijatuhkan kepada pelanggar tidak sama dg hukum Syarak. 

2.SIMPUL DARI ADAT BASENDI SYARAK.

Bahwa Adat basendi syarak, Syarak basendi kitabullah, Syarak mengato adat memakai adalah: ”Hukum adat tidak boleh berlaku, bila bertentangan dg hukum islam. (Inilah yg disebut bpk Sayuti Talib,SH, Teori Resepsi A Contrario, membantah teori Resepsi Snuog Hoqranye yg berkata Hukum Islam boleh berlaku bila menjadi hukum adat atau hukum islam tidak berlaku kalau bertentangan dg hukum adat)”.           

Segala ketentuan hukum islam wajib dilaksanakan oleh hukum adat, apa yang dilarang oleh hukum islam wajib dilarang oleh hukum adat, Perbutan yang dilarang hukum islam dilarang juga oleh hukum adat, walau hukum yg dijatuhkan kepeda pelaku tidak persis sama dg hukum islam, prinsipnya adalah sama-sama dilarang, sama-sama dihukum, sama-sama menimbulkan efek jera atau takut anggota masyakat melakukannya.

3. EKSISTENSI ADAT BASENSI SYARAK.

Adat basendi syarak tidak dikenal atau tidak ada di negara islam, Arab Saudi, Qotar dsb, ini adalah terkait dg palsafah hidup masyarakat dan bentuk negaranya. Ketika hukum islam dterima orang Arab maka hukum jahiliyah langsung dibuang, karena palsafah hidup mereka adalah islam dan negaranya adalah negara islam, hukum islam diterima dan dilaksana kan 100% maka hukum adat jahiliyah mereka dibuang & tidak dipakai lagi.        

Tetapi di Indonesia khususnya di Melayu Jambi & Minangkabau di kenal Adat basendi syarak bukan sa’at agama islam masuk, namun ada proses latar belakangnya yang dilalui.

1) DI KERAJAAN MELAYU JAMBI.

Ketika semua orang telah bergama islam dimasa Orang Kayo Hitam jadi Rajo Kerajaan Islam Melayu Jambi tahun 1500-1515M, diawal kekuasaannya ada 2 (dua) macam hukum berlaku dimasyarakat Melayu Jambi, 1 Hukum Adat Jumhur yg dipengaruhi agama Budha, 2 Hukum Adat Taliti yang telah berisi hukum islam. kalau dibiar dua macam hukum tsb berlaku maka akan timbul kekacauan hukum dalam satu negara kerajaan, tidak mungkin ada kesadaran hukum dan tidak mungkin ada tertib hukum, maka itu wajib dihapus dibuat satu macam hukum.

 Maka diadakan RBA Bukit Siguntang menyatukan “Adat dg Syarak, keluar Adat Basendi syarak”, RBA tsb dilaksanakan pada hari Rabu tgl 2 Juli s/d Rabu tgl 16 Juli 1502M atau pda hari Arba’a tgl 17 Zulhijah 907H s/d  hari Arba’a tgl 1 Muharam 908H, selama satu 1X lungkang Sko (14) hari orang rapat, hari ke 15 adalah berlek pesta “Dalam Kerbau Tengah duo 1 ekor beras 100 gantang, Dicanangkan Putusan RBA, dikuatkan Sumpah Setih Setio dg jamuan kerbau tengah duo”. Sejak sa’at itu berlaku satu hukum adat di melayu Jambi yaitu Hukum Adat Basendi Syarak 9 Pucuk, yang diserap oleh Taliti.

2 DI MINANGKABAU SUMBAR.

Kertika berakhir Perang Padri tahun 1833M antara Kaum Adat yang dibantu oleh Belanda dengan Kaum Agama, orang Minangkabau telah menyadari bahwa mereka telah diadu domba oleh penjajah Belanda, dirasa perlu menyatukan pandangan hidup dan kekuatan, maka diadakan Rapat Adat yg dikenal dg “Sumpah Sati Bukit Marapalam (RBA) tahun 1837M. Perjanjian dilakukan pemimpin adat & agama Minang menyatukan adat dan agama serta kekuatan Kaum Adat & Agama melawan Belando, dg filosofi "Adat bersendi syariat, syariat bersendi Al-Quran". Sumber You Tube.

Hal ini sesuai dg buku sbb :

1. Buku Riwayat hidup Syeih Sulaiman Arrasuli,cet.ke1,tgl 21-2-1978, hal 30-31, ditulis Baharudin Rusli, menyebut Adat Basendi syarak di Minangkabau terjadi tahun 1833M di Bukit Marapalam.

2. Buku Prof DR. Hamka Islam & Minangkabau, cet.ke II,1985, hal,138, berbunyi:Orang Minang terima Islam sbg agama, sejak dari Kerajaan Pagaruyung, mulanya secara evolusi (mendaki syarak dari pesisir), lalu bersifat revolusi, saat perang Padri, maka Bai’at Bukit Marapalam th 1833, dapat perpaduan yg tegas: “Adat basandi syarak, syarak basendi kitabullah”.(**)


Sumber : Buku Sumpit Gading Damak Ipuh

Karya Muchtar Agus Cholif,SH. Adipati Cendikio Anggo Ganto Rajo,

Tuah Latih Pusako Alam.Penulis Zamroni Aryo Karyo Siera Alam Sakti Sekretaris Dubalang(D4G7)Provinsi Jambi

×
Berita Terbaru Update