Penulis: Zamroni, Tb. Aryo Karyo Siera Alam Sakti_
JAMBI, http://Jambitransnews.com, - Rapat Besar Adat (RBA) Bukit Siguntang 1502M/908H merupakan momentum penting dalam sejarah Kerajaan Islam Melayu Jambi. Rapat ini dipimpin Rajo Melayu Jambi, Orang Kayo Hitam yang berkuasa tahun 1500-1515M atau 905-920H.
Saat berusia 35 tahun, beliau berkeinginan mengakhiri dualisme hukum antara Hukum Adat Jumhur dan Taliti yang berisi hukum Islam. Selain itu, banyak sengketa anak negeri tentang batas tanah dengan kerajaan tetangga yang perlu diselesaikan.
RBA berlangsung selama 1 X Lungkang Sko, sejak Rabu tanggal 2 s/d Rabu tanggal 16 Juli 1502M, atau sejak Arba’a tanggal 17 Zulhijah 907H s/d Arba’a tanggal 1 Muharam 908H di Bukit Siguntang.
*1. JENANG ELOK (PANITIA)*
Untuk pelaksana RBA dibentuk Jenang Elok atau panitia yang bertanggung jawab atas suksesnya acara dengan semboyan "Lek Nan Bapungko Kerjo Nan Bajunjung" atau silang bapangko kerjo bapokok.
Pungko Lek adalah Pemangku Adat VII Koto IX Koto dan Pemangku Adat Wilayah Jambi. Junjung Lek adalah Rajo Jambi.
*2. DIUNDANG RAJO NEGARA TETANGGA*
Undangan resmi Rajo Melayu Jambi "Cerano Sirieh Senampan, Tudung Balepak Tongkat Babatang Tali Babuhul" dikirim kepada:
1. Rajo Palembang Demang Selebar Daun
2. Rajo Pat Petulai Rejang Lebong
3. Tuanku Hitam Syeikh Sairullah Rajo Inderapura Teluk Air Manis
4. Rajo Minang Sultan Bakilat Alam
Dari keempat rajo tersebut, hanya Rajo Minang yang hadir bersama Kepala Nagari dan Depati Empat Diatas Tigo Dibawah. Juga hadir Pamuncak Pembarap, Kerinci Rendah dan Kerinci Tinggi. Rakyat pun berduyun datang dari berbagai daerah.
*3. DIBUAT BALAI PANDEK BALAI PANJANG*
Di atas Bukit Siguntang dibangun 9 buah Balai Pandak ukuran 9x9 hasta dan 9 buah Balai Panjang ukuran 9x9 depo. Bangunan dari kayu tanpa dinding dan beratap sikai, dibangun gotong royong oleh penduduk 7 Koto 9 Koto. Pengawasan dilakukan Dubalang Berempat Gedang Batujuh dan Pemangku Adat, terutama dari 7 Koto 9 Koto Tebo.
*4. UNDANG BERTEMU TALITI*
Rajo Pagaruyung Sultan Bakilat Alam datang membawa gong, gendang, rebab, serunai, seruling, dan kecapi. Suasana gegap gempita.
Secara takdir Allah, kedua rajo bertemu secara serempak di tepi Sungai Dani. Rajo Minang Sultan Bakilat Alam datang dari hulu Sungai Batanghari, sementara Rajo Melayu Jambi Orang Kayo Hitam datang dari hilir. Pertemuan itu terjadi di "Ujung Lentik Lidah Tanah Tanjung Simalidu".
*5. APO KATO UNDANG (Adat Minang)*
Dalam dialog antara Undang dan Taliti, dibahas kasus anak dagang yang dituduh kehilangan barang. Menurut Kato Undang, "sebelum Enggang terbang belum ada ranting jatuh". Anak dagang tersebut dianggap bersalah karena terbukti melakukan pencurian.
*6. APO PULO KATO TALITI (Adat Jambi)*
Kato Taliti menekankan pembuktian. "Dimana tak kejar talelah, tatukik pijak mendaki talanca pijak menurun". Jika tidak ada bukti seperti puntung suluh atau sisa racun, maka belum tentu bersalah. Tugas Undang menyelidiki, tugas Taliti memutuskan. Jika bersalah dihukum, jika tidak bersalah dibebaskan.
*7. PIAGAM (PUTUSAN) RBA BUKIT SIGUNTANG 1502M*
RBA Bukit Siguntang yang berlangsung di bukit setinggi 200 meter ini melahirkan Piagam Bukit Siguntang 1502M. Hukum Adat Melayu Jambi digali dari Kitab Suci Al-Qur'an.
Dalam Proklamasi Rajo Kerajaan Islam Melayu Jambi, Orang Kayo Hitam mengumumkan "Piagam 9 Pucuk" sebagai berikut:
1. Islam Agama Resmi Kerajaan Islam Melayu Jambi
2. Negara Kerajaan menjadi Kerajaan Islam Melayu Jambi
3. Dipadu Adat dengan Syarak, lahir Adat Basendi Syarak
4. Dasar Negara: Pucuk Undang Nan Limo
5. Hukum Dasar/UUD: Kerajaan Islam Adat Nan Empat
6. Hukum Adat Melayu Jambi berjumlah 9 Pucuk
7. Bahasa adalah Melayu, tulisan Arab Melayu Jambi
8. Durian Takuok Rajo sebagai batas Jambi dan Pagaruyung
9. Cerano Sirieh Senampan dijadikan simbol jiwa rago
*8. KERBAU TENGAH DUO DAN SETIH SETIO*
Sebagai bentuk sakral, dipotong Kerbau Tengah Duo atau kerbau hamil untuk jamuan. Dengan jangat, darah, tulang kerbau, dan rambut peserta RBA, mereka bersetih setio untuk melaksanakan Hukum Adat 9 Pucuk.
Isi sumpah setia tersebut menegaskan bahwa siapa yang mengingkari akan dikutuk sebanyak ayat, huruf, dan titik dalam Al-Qur'an, sebanyak bintang di langit dan pasir di bumi.
Hukum Adat 9 Pucuk dibuat dengan Kato Mupakat. Hal ini sesuai firman Allah dalam QS. As-Saff: 2-3 dan QS. Al-Baqarah: 44.
Penulis: Zamroni, Tb. Aryo Karyo Siera Alam Sakti_
_Sumber: Buku Sumpit Gading Damak Ipuh, Karya: Muchtar Agus Cholif, SH. Adipati Cendikio Anggo Ganto Rajo_
Editor:Redaksi Jambitransnews.com


