Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Petani Padang Bolak, Produsen Sekaligus Konsumen

05 September, 2025 | September 05, 2025 WIB Last Updated 2025-09-05T10:21:08Z



Jambitransnews.com,- Ibarat tangga rumah panggung kami, posisi petani itu berada pada anak tangga terbawah. Ia menempati posisi terendah, kalah jauh dari mereka yang PNS. Jangan heran kalau gadis PNS itu rebutan dan maharnya selangit. Begitu juga dengan pemuda PNS, cepat dapat boru (istri).

Petani tradisional di kampung ku, Padang Bolak, Tapanuli Selatan, di era 80-an identik dengan lumpur dan miskin. Profesi petani bukan pilihan terhormat dan bermartabat. Para orangtua menasehati anak-anaknya untuk belajar yang benar agar tidak bergelut dengan lumpur dan merasakan kesulitan seperti yang mereka alami.

Pangkal persoalan yang membuat petani miskin di kampungku adalah mereka produsen, tetapi juga konsumen. Mereka bertani/marsaba memproduksi beras, tetapi juga membeli beras. Pendapatan mereka hanya dari gabah, sehingga keperluan biaya anak sekolah diperoleh dari hasil menjual gabah.

Derasnya penjualan gabah jelang lebaran untuk beli baju baru anak-anak membuat lumbung yang semula menggunung menjadi cekung. Akhirnya, stok pangan keluarga tidak mencukupi hingga panen berikutnya. Mau tidak mau, mereka harus membeli beras.

Belum lagi persoalan lain menyusul, yakni masa tanam mundur jauh akibat kemarau panjang. Masa beli beras pun bertambah panjang. Sementara sumber pendapatan lain tidak ada, maka terciptalah "Haleon", pangan terancam. Di era 70-an penduduk Padang Bolak terpaksa mencampur jagung dengan beras sebagai siasat mitigasi agar beras tidak cepat habis.


Anak-Anak Petani


Dasar kami anak-anak yang belum peka pada situasi. Lamanya tidak ke sawah justru membuat kami senang karena waktu bermain kian lama. Kami main bola dan layangan di sawah yang kering kerontang.

Suatu waktu, saya dibentak Mama karena mengatakan, "Uma nanggi marsaba, tai mangan do hita." Artinya, tak usah bertani tetap makan. Mendengar itu, mama nyerocos. Kata mama, "Gak tau kau buat beli beras pontang panting, utang sana sini bayarnya habis panen."

Kekosongan lumbung juga membuat para remaja/pemuda boncos. Sebab, mereka tidak bisa lagi manggeser. Budaya manggeser ini banyak dilakoni muda-mudi untuk keperluan jajan. Manggeser, mengambil gabah milik orangtua, tidak disebut mencuri, tetapi dikategorikan sebagai kenakalan remaja.


Penulis : Erman Tale Daulay

×
Berita Terbaru Update